Menghormati Sebuah Keberanian
![]() |
| http://aricha1.blogspot.co.id |
Sekarang dengan perasaan bangga marilah kita sambut seorang pemuda yang berbeda dari pemuda lain pada umumnya. Saya telah mendengar dan membaca bahwa melihat kondisi daerah dan masyarakat Riau dari masa ke masa hingga saat ini, yang memiliki banyak persoalan di berbagai bidang kehidupan, diantaranya politik, ekonomi, sosial, dan hukum, bung Al Fajri memutuskan untuk ikut sebagai peserta dalam dinamika kontestasi politik pemilihan gubernur provinsi Riau.
Anda menerima panggilan hati kecil itu, bung Al Fajri, bukan karena anda tidak menghor-mati kaum tua, kami tahu itu, tetapi karena cinta anda yang mendalam, keinginan kuat untuk mengabdi kepada Riau dan rakyatnya, sebagai bentuk balas jasa karena anda telah dibesarkan oleh mereka. Dan juga bukan karena anda tahu, tidak mudah menjadi peserta dalam dinamika kontestasi proses untuk mendapatkan pemimpin Riau masa depan, sebab sampai saat ini anda masih berdiri di sana, belum beranjak dari niat yang telah anda tanam. Yang terlihat dari anda bahkan lebih dari itu, bung Al Fajri, pergerakkan anda terlihat semakin kencang.
Kita semua tahu, pemuda itu adalah musuh kemandekkan, stagnasi, karena itulah mereka disebut sebagai agen perubahan. Tidak seperti mereka, kaum tua lebih cendrung pada kemandekkan, mereka sering disebut pencinta kemapanan. Kecendrungan itu tentu saja berarti baik, jika yang dipelihara itu, yang dibuat mapan ialah hal-hal yang baik, tetapi yang jadi masalah yang terjadi justru sebaliknya, hal-hal yang dipelihara dan dibuat mapan itu adalah segala hal yang buruk. Misalnya, memelihara kesenjangan sosial, ketidakadilan, kemiskinan, ketidak-amanan, dan apalagi yang dipelihara dan dibuat mapan itu korupsi, kolusi, nepotisme, yang merupakan salah satu akar dari seluruh kejahatan, kesenjangan dan ketidak-adilan di Riau.
Inilah kebutuhan mendesak kita hari ini, kita butuh manusia yang anti kemapanan, tentu saja yang kita maksud adalah kemapanan yang “buruk”, seperti yang selama ini hampir selalu kita saksikan dari waktu ke waktu. Kita butuh manusia yang memiliki tekad membaja untuk menghancurkan tradisi kesejangan sosial yang curam. Kita butuh manusia yang memiliki kata dan perbuatan seiring sejalan untuk merombak tradisi birokrasi, korporasi, hukum, yang lebih cendrung menyusahkan dan mengorbankan rakyat jelata melalui tradisi-tradisi koruptif.
Riau yang ingin kita lihat ke depan adalah Riau yang rakyatnya itu sejahtera, hukumnya bijak, dan lingkungannya terjaga. Kita tidak ingin lagi mendengar di negeri yang disebut oleh orang luar ini sebagai negeri kaya, karena di atas minyak-di bawah minyak, kenyataannya jusru sebaliknya: Rakyat Riau rupanya kita temukan masih banyak yang melarat, masih ada busung lapar, putus sekolah; penikmat kekayaan Riau rupanya kita temukan dinikmati oleh segelintiran orang; hukum di Riau rupanya kita temukan tajam ke bawah sebaliknya tumpul ke atas dan; lingkungan Riau rupanya kita temukan dalam kondisi membahayakan rakyatnya.
Mengatasi persoalan yang seperti ini kita butuh iman yang mendalam, hati yang ikhlas, semangat yang berkobar, dan tentu saja amal, sebab iman, ikhlas dan semangat ujungnya adalah amal, perbuatan. Kita tidak akan menemukan keempat hal itu dapat terhimpun dalam diri se-seorang kecuali dalam diri pemuda. Ini bukan kesimpulan yang kita paksakan, sejarah telah mencatat di atas batu yang tidak mungkin terhapus tentang bukti-bukti pemuda sebagai pilar kebangkitan. Negeri ini sendiri bahkan telah merasakan para pemuda yang bertangan dingin, di saat kaum tua takut keluar dari zona nyamannya, pemuda justru berani tampil ke muka.
Bukan mereka tidak tahu resiko besar yang akan mereka hadapi saat melawan kemapanan yang menyengsarakan itu, dan bukan pula mereka tidak takut, mereka tahu betul resiko yang mungkin mereka hadapi, dan sebenarnya ada juga ketakutan di dalam dalam mereka. Sebab sejarah telah menceritakan seluruh resiko besar yang mungkin saja terjadi tanpa bisa mereka duga, tentu saja sempit dan pengapnya penjara, pahitnya kehilangan akan juga menimbulkan ketakutan di dalam dada, tetapi harapan mereka lebih besar daripada resiko, dan cinta mereka jauh lebih suci, mulia, agung, dan perkasa daripada ketakutan.
Cinta pada sang pencipta, kehidupan, manusia, lingkungan lebih berkuasa di dada mereka. Bagi pemuda, sesuai ungkapan Chairil Anwar: “Sekali berarti sesudah itu mati”, itu telah jadi somboyan pemuda. Semua pasti mati, tapi tidak semuanya mati dalam keadaan berarti. Inilah yang membuat para pemuda itu mampu melakukan hal-hal yang dipandang tidak masuk akal oleh banyak orang karena besarnya resiko yang selalu mengancam jika melakukan yang men-gganggu pecinta kemapanan pada hal-hal yang buruk dan jahat. Mereka mencintai saudara-saudara mereka seperti mencintai diri mereka sendiri, ketika daerah dan rakyatnya terluka, menderita – luka dan derita itu dalam waktu bersamaan juga terasa dalam dada mereka.
Hadirnya anda, bung Al Fajri, seolah menjawab panggilan bung Karno: Berikan saya tujuh pemuda maka akan kuguncang dunia. Bayangkan saja, dengan tujuh pemuda mengguncang dunia, tentu saja walaupun anda sendiri pemuda yang berani tampil ke muka, itu sudah lebih dari cukup untuk menguncang dan meluluhlantakkan kemapanan hal-hal yang buruk dan jahat di negeri perahu lancang kuning ini. Kami yang menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri tentang kesediaan bung Al Fajri ikut berkontensasi, berikhtiar jadi pemimpin Riau, tentu tidak akan membiarkannya benar-benar sendirian di dalam panggung itu.
Kami tahu bahwa bung Al Fajri tentu tidak memiliki kemampuan finansial seperti halnya calon pemimpin Riau yang lain. Tapi kamipun juga tahu, jika hati kecil ini menginginkan ada perubahan di negeri yang selama ini selalu dipimpin kaum tua yang ternyata tidak mampu menjadikan Riau dan rakyatnya sejahtera, agamis, adil, jujur, nyaman dan sehat tentu kita bisa mewujudkan Riau dan rakyatnya dipimpin oleh seorang pemimpin muda, yang relatif segala jejaknya masih belum tercemar dengan keburukan sebab belum bersentuhan aktif dengan hal-hal yang terkait dengan lahan basah kejahatan. Selain itu kita dapat mengatasi kekurangan finansial dengan melakukan hal-hal yang kreatif yang bersifat efektif dan efesien.
Kami sangat menghormati keberanian anda, bung Al Fajri, tentu keberanian itu tidak kami biarkan pulang hampa. Jika selama ini pemimpin Riau diusulkan oleh kalangan atas, sekarang kami ingin pemimpin Riau selanjutnya diusulkan oleh kalangan bawah, rakyat jelata yang mau perubahan di negeri ini, perubahan ke arah yang lebih baik. Kita jangan sampai membiarkan satu suarapun dibeli dengan uang, lalu membuat kita menderita selama lima tahun. Tidak ada siapapun dari manusia yang bisa menghalangi, mengancam, menakut-nakuti jika rakyat sudah muak dengan ketidakadilan, KKN, bosan pada kebohongan.
Keberanian anda, bung Al Fajri, membuat kami insyaf pada firman sang pencipta: "Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri merubah nasibnya”. Suara rakyat – suara Tuhan, jika rakyat berkehendak jadi maka jadilah, Riau dipimpin pemimpin muda yang membuat kontrak, kerja dan bertanggung jawab langsung pada pencipta dan rakyat Riau.
Pekanbaru, 1 November 2017
--Robbi Sunarto
*Tulisan ini ditulis sebagai sambutan atas keputusan bung Al Fajri ikut serta dalam ikhtiar menjadi pelayan Riau, rakyat, dan lingkungannya, periode selanjutnya, di tengah-tengah hati rakyat yang hampir hilang harapan dan kepercayaan pada nasib, hari esok yang lebih baik.

Komentar
Posting Komentar